Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

6 Februari 2010

Biography KH. Dadun Abdul Qohhar

A. PENDIDIKAN

1. Belajar di Pesantren Cantayan pada usia 6 tahun langsung oleh orangtua, kemudian belajar pada :
- K. Ahmad Nahrowi (kakak)
- K. Uci Sanusi, sebelum beliau hijrah ke Cikaroya Cimahi Sukabumi
- KH. Acun Manshur (kakak)
- K. Ahmad Damanhuri (kakak)
2. Pada tahun 1938 - 1940 belajar di Madrasah Syamsul `Ulum, Pesantren
Gunung Puyuh, Kotamadya Sukabumi di bawah pimpinan KH. Ahmad Sanusi

B. KEGIATAN

Da'wah
Dari tahun 1936 sampai wafatnya (red) aktif dalam bidang Dakwah Islamiyah, melalui pengajian-pengajian rutin, baik kaum bapak, kaum ibu, remaja, mahasiswa, para kiyai dan sarjana (data terlampir) dan pengajian-pengajian yang sifatnya insidental termasuk hari-hari besar Islam.
Pendidikan
Tahun 1936 - 1945 turut aktif mengelola Pesantren Cantayan Cibadak Sukabumi. Dari tahun 1949 sampai (wafat, red) sebagai sesepuh Pesantren Adda'wah Cibadak Sukabumi.

24 Januari 2010

Beri Kami Biangnya, Jangan Botolnya

(Melembagakan Budaya Uswah/Suritauladan)

LELAP TAK BERDAYA

Kita tidur lelap, demikian nyenyaknya sampai kita tidak sadar para pencuri telah masuk ke rumah, melongok, berjingkat-jingkat dan mengendap-endap dan melihat kita yang tergolek demikian lelapnya, dengan mencibir dan sinis mereka melewati tempat tidur kita, mereka hafal betul seluruh ruangan dan kamar kita seolah-olah merekalah pemilik rumah. Para pencuri ini telah lama merencanakan pencurian di rumah kita, dipelajarinya dengan seksama kebiasaan-kebiasaan kita, kebiasaan harian kita, mingguan, bulanan dan kebiasaan tahunan kita, sehingga mereka tahu persis segala rutinnya aktifitas kita dari mulai subuh, pagi, siang, malam dan seterusnya, dari saat kita terjaga dan tertidur, sepertinya para pencuri ini juga mampu mencuri mimpi-mimpi kita, harapan, gagasan dan ide-ide kita. Mereka telah mengenal kita bagaikan mengenal anaknya sendiri, hafal betul dengan dengus nafas kita, watak, karakter, kolokan dan manjanya kita (ya’rifunahuu kama ya’rifuuna abnaa ahum, QS. 2 ; 146 “kenalnya mereka kepada Muhammad (Alqur`an, Islam, kebenaran) seperti mengenal anaknya sendiri, tetapi kebenaran ini mereka sembunyikan)”.

9 Januari 2010

Fenomena Pilkada (Beli Karung Tanpa Kucingnya)

(Tulisan ini tidak disertai validitas data yang akurat, tetapi hanya didasarkan atas obrolan, bisikan, dan keluhan serta informasi dari media cetak dan elektronik dan kesimpulan yang bersifat sumir dari beberapa kasus yang terjadi di negeri ini tentang proses demokratisasi kepemimpinan melalui  pemilu, pilpres, pilgub, pilkada).

KARUNG TANPA KUCINGNYA

 
Sebuah baliho dengan warna mencolok berukuran 12 x 10 m2 terpampang di persimpangan jalan protokol dengan tampilan foto calon kepala daerah ukuran besar tetapi hurup kecil, namun masih bisa terbaca dengan tulisan “MARI KITA JAGA PERSATUAN DAN KEUTUHAN NKRI”.

22 Desember 2009

Mencari Format Pemimpin Ideal

Pidato monumental Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., ketika dilantik sebagai khalifah pertama diabadikan dalam ucapannya :
يأيهاالناس فإنى قد وليت عليكم ولست بخيركم فإن احسنت فأعينونى وإن أسـات فقومونى, الصدق أمنة والكذب خيانة
“Wahai segenap rakyatku, terpilihnya aku sebagai pemimpin kamu, bukan berarti aku yang paling baik di antara kamu, paling berjasa di antara kamu, paling bersih di antara kamu, paling suci diantara kamu, bukan !. tetapi bila aku berbuat baik untuk rakyat bantu aku dan apabila aku berbuat salah maka tegurlah aku, kebenaran itu adalah amanat dan kebohongan itu adalah khianat. Siapa saja yang merasa dirinya kuat di antara kamu maka dia lemah di hadapanku sehingga aku harus mengambil kekuatannya untuk memenuhi hak-hak rakyatku, dan siapa saja yang merasa dirinya lemah di antara kamu, maka dia kuat di hadapanku, sehingga aku harus menunaikan kewajibanku menghapuskan kelemahannya. Taatilah kalian kepadaku selagi aku mentaati Allah dan rasulNya, dan apabila aku tidak mentaati Allah dan rasulNya maka tidak ada kewajiban bagi kalian mentaatiku”.

21 Desember 2009

Nyanyian Kemiskinan (Sepenggal Puisi Pinggiran)

Di negeri ini, orang miskin bisa jadi apa saja
Di negeri ini, si miskin bisa tidak jadi apa-apa
Di negeri ini, orang miskin bisa makin miskin
Di negeri ini, orang miskin bisa dijual
Dijadikan proyek politik
Dijadikan kendaraan politik
Dijadikan tunggangan politik
Bahkan bisa dijadikan sarana kritik
Orang-orang licik dan picik
Orang miskin di negeri ini dipelihara
dirawat, diurus, dielus-elus dan dilestarikan
tapi bukan dibangkitkan
bukan pula disadarkan
apalagi diberdayakan