9 Januari 2010

Fenomena Pilkada (Beli Karung Tanpa Kucingnya)

(Tulisan ini tidak disertai validitas data yang akurat, tetapi hanya didasarkan atas obrolan, bisikan, dan keluhan serta informasi dari media cetak dan elektronik dan kesimpulan yang bersifat sumir dari beberapa kasus yang terjadi di negeri ini tentang proses demokratisasi kepemimpinan melalui  pemilu, pilpres, pilgub, pilkada).

KARUNG TANPA KUCINGNYA

 
Sebuah baliho dengan warna mencolok berukuran 12 x 10 m2 terpampang di persimpangan jalan protokol dengan tampilan foto calon kepala daerah ukuran besar tetapi hurup kecil, namun masih bisa terbaca dengan tulisan “MARI KITA JAGA PERSATUAN DAN KEUTUHAN NKRI”.


Memaksakan ciri sebagai negara demokrasi di Indonesia adalah memang  harus ada pemilihan umum (general election), sebelum pemilu ditandai dengan pengenalan para calon pimpinan, sosialisasi calon melalui brosur, sticker, spanduk, baliho dengan foto close-up yang dishoot dari berbagai posisi, dipasang di jalan-jalan protokol, ditempel di tembok-tembok rumah orang, di tiang listrik, di pohon-pohon, di bis, angkutan kota juga di angkutan pedesaan, maka semaraklah kota, desa dengan spanduk penuh warna-warni, maka sibuk pulalah para publisher/percetakan meraup rejeqi, juga sosialisasi sang calon  melalui media cetak,  elektronik,  dan yang tak kalah menariknya adalah sang calon turun ke bawah, menemui rakyat konstituennya, ikut suling (subuh keliling), ikut tarling (tarawih keliling), ikut jumling (jum’at keliling) ‘jadi ikut eling’,  ikut berpartisipasi keliling langsung dengan aktifitas rakyat sehari-hari, sambil tak lupa menebar senyum, menebar pesona, menebar dana dan juga menebar janji. Tak segan-segan sang calon turun ke pasar yang becek tanya harga ini – itu, tanya harga laja yang dipegang jahe, simpatik sekali. Betapa lembut penampilannya, betapa murah senyumnya, betapa ramah tutur katanya, betapa murah tangannya dengan membagi-bagi duit, bagi-bagi proyek bodong, betapa dan sejuta betapa bodong lainnya. Rakyat terkesiap, jadi kaget, jadi manut, jadi mumpung, jadi pintar melihat dan memanfaatkan situasi. Betapa sejuta betapa jadi lainnya dimanfaatkan, …… lumayan ‘rejeki’ limatahunan.
Tim sukses menyusun strategi dan taktik, menguras otak, menguras tenaga, menguras karakter dan profil sang calon yang diusungnya sambil tak lupa budaya ABS mulai dikembangkan, Insya Allah sukses pak, Insya Allah jadi pak, Insya Allah mendukung pak,  betapa penjilatan dan betapa sejuta Insya Allah lainnya ditebarkan. Sang kandidat manut-manut senyum, bangga, senang, adrenalin percaya dirinya  naik, sambil tak lupa berbisik, tolong yang ini, yang itu amankan, awasi dan gosok terus.
Sebatas itulah fenomena demokrasi yang dikembangkan oleh kita, demokrasi jalan pintas, demokrasi yang akan melahirkan kebodohan, demokrasi yang terkesan asal-asalan, demokrasi yang akan melahirkan kemunafikan dan demokrasi yang akan melanggengkan sikap dan perilaku korup, dan demokrasi yang tak jelas juntrungannya, …… Sungguh menyedihkan.
Tak sedikit jumlah dana yang dikucurkan pemerintah (uang rakyat, juga) dimanfaatkan untuk menyukseskan pesta demokrasi ini, untuk memilih, menyaring, menyeleksi kandidat masa depan yang ternyata, maaf malah bikin runyam dan suram.
KPU, KPUD, ikut sibuk mengajukan proposal jumlah kebutuhan biaya hajatan rakyat ini, tim sukses sang calon pun tak mau ketinggalan mengajukan pula jumlah kebutuhan biaya kampanye, biaya konsolidasi, biaya pengkaderan. Sang calon pun ikut-ikutan sibuk menawarkan kepada para  usahawan, jutawan, miliunerwan barjaining proyek apa yang harus digoalkan, diamankan apabila dia terpilih jadi nomor satu di wilayahnya, biar support dana kampanye turun. Dan ini yang menyedihkan; sang calon telah lebih awal menjual diri dan kepercayaan dirinya bahwa dia akan terpilih. Dan apabila tidak terpilih, maka ngamuklah ia bersama-sama dengan pendukungnya, sejuta alasan dicari, direkayasalah, kecurangan terjadilah, banyak pencoblos bayaranlah, betapa sejuta banyak alasan kekalahan diperkarakan. Karena dia harus membayar kembali dana yang dikucurkan sang konglomerat. Dan apabila dia menang?, maka bersiap-siaplah ia untuk menarik dana kembali dengan sejuta aturan, dengan sejuta sogokan dan sejuta kedipan mata dan sejuta pesan singkat, dan mulai pulalah dunia sogok dinyanyikan dan justru inilah awal korupnya sistem pemilihan pemimpin kita.

SLOGAN vs PROGRAM

Suram? Ya! karena yang dijual para calon pemimpin lewat sticker, spanduk, baliho hanya foto dan kata – kata simpatik yang sudah lumrah, sloga-slogan klise misalnya :
"SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA", "SELAMAT IDUL FITHRI",  "SELAMAT, SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR”, “SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU",  "MARI SELAMATKAN GENERASI KITA DARI BAHAYA NARKOBA”,  "MARI SUKSESKAN GERAKAN WAJAR SEMBILAN TAHUN",  "MARI BEBASKAN PENDIDIKAN 9 TAHUN DARI SPP”,  “MARI SELAMATKAN RAKYAT DARI KEMISKINAN" dan betapa mari sejuta mari lainnya dikumandangkan. Ini tidak mendidik, ini tidak sehat, ini tidak demokratis, ini hanya akal-akalan, ini tidak menyentuh substansinya. 
SELAMATKAN DEMOKRASI KITA
Dunia ICT (Information Communication Technology) sekarang ini sebenarnya banyak memberi peluang dan  kesempatan yang terbuka luas untuk mensosialisasikan program dan agenda jangka panjang limatahunan, sepuluhtahunan sang calon pemimpin. Kenapa media cetak (koran, majalah) tidak dimanfaatkan untuk mencerdaskan rakyat dalam berdemokrasi. Bila perlu dan harus, booking 2 - 4 halaman penuh koran baik lokal maupun nasional selama dua minggu berturut-turut, ajukan program-program realistis sang calon lengkap dengan analisa-analisa ilmiah tentang potensi daerahnya, tentang SDM (berapa usia produktif, berapa usia sekolah, berapa jumlah penduduk yang miskin) yang ada di wilayahnya, kemukakan solusi-solusi logis, dari nilai-nilai kelemahan dan kekuatan dari potensi-potensi alam dan manusianya. Buka program ini di koran-koran dan beri kesempatan rakyat mengkritisi rencana program-program sang kandidat, tentunya dengan bahasa yang mudah dicerna oleh seluruh lapisan masyarakat. Ajak masyarakat terlibat langsung dalam berfikir, bertindak dan bertanggungjawab atas kondisi wilayahnya, tentunya ajakan ini harus melalui pendekatan tertentu; melalui questioner, melalui surat terbuka di koran, bila perlu buka nomor ponsel sang calon atau tim suksesnya. Jelaskan kepada rakyat bahwa wilayah kita lima sepuluh dan duapuluh tahun mendatang diprediksikan seperti apa (walaupun dia tidak terpilih, tokh dia sudah membuktikan kepeduliannya untuk membangun daerahnya; dan ini salah satu satu karakter pemimpin.) Dia kemukakan angka-angka hitungan logis; ekonomi kita akan bangkit ataukah akan terpuruk, model sistem pendidikan bagaimana yang hendak dikembangkan, apa saja pondasi-pondasi kekuatan yang harus dipancangkan. Dari pada menjual tampang di sticker, spanduk, baliho, alangkah lebih fair dan bagusnya sang calon menampilkan kecerdasan, kecermatan tentang kondisi wilayah yang akan dipimpinnya, potensi keunggulan, potensi kelemahan dan solusi-solusi alternatif problem wilayahnya dan Insya Allah rakyat akan ikut berpartisipasi secara sehat, cerdas  dalam demokrasi ini.

PEMIMPIN vs PEMIMPI

Jargon-jargon lama, slogan-slogan klise, kosong, bodong terus digelontorkan, untung rakyat tidak muntah juga. ‘Kalimatun haq uriidu bihii baathilun” kalimat-kalimat indah disusun, seruan-seruan kebaikan terus dikumandangkan tetapi dibalik semua itu punya niat dan motivasi  buruk, bathil. “Kaburo maqtan ‘indallaahi an taquulu ma laa taf`aluun; “Sungguh sangat besar kebencian Allah kepada orang yang mengajak kebaikan tetapi dia sendiri tidak berbuat”.
Kriteria seorang calon pemimpin yang memiliki leadership mumpuni akan bisa dilihat pada 4 karakter yang merupakan rumusan pasti dari pribadi Rasulullah Muhammad Saw, yakni:
Karakter Amanat; menjaga betul apa yang menjadi tanggungjawabnya  tidak menghianati apa yang diamanatkan dalam jabatannya baik sebagai pemimpin negara, menteri-menteri negara, pemimpin propinsi, kabupaten, walikota juga pemimpin perusahaan-perusahaan BUMN, BUMD dan BUMS. Nurani sucinya tidak akan sanggup untuk menghianati apa yang telah menjadi tanggung jawabnya. Peraturan-peraturan yang akan dibuat pun tidak akan merugikan rakyatnya, pemimpin yang amanat akan berhati-hati ketika tandatangannya digoreskan pada sebuah peraturan, dengan bismillah dan selalu memohon perlindungan Allah SWT dia akan berfikir sejuta kali; apakah dengan tandatangan saya ini rakyatku jadi kelaparan; apakah akan memiskinkan dan menyengsarakan rakyat. Betapa dan betapa sejuta apakah dia perhitungkan secara cermat dan ekstra hati-hati.
   
Karakter Fathonah; cerdas, smart, cermat, cerdik, dan pintar; cakap dalam membaca potensi dari keunggulan dan kelemahan rakyatnya, pemetaan wilayah kekuasaannya dibuat berdasarkan potensi daya dukung alamnya serta mampu membuat solusi-solusi alternatif, dan yang lebih penting adalah mampu mencerdaskan rakyatnya, karena kecerdasan rakyat merupakan modal utama dan pertama dalam membangun daerahnya. Sementara di lapangan banyak para pemimpin menganut dan menerapkan teori Lord Shang “a stronge state is a weakening people, a weakening people is a stronge state; kalau negara mau kuat lemahkan rakyatnya, kalau rakyat lemah maka negara akan kuat.”  Seorang Salman Al Farishi dari Persia yang baru dua minggu masuk Islam, karena kecerdasannya diberi kehormatan,  kesempatan dan kepercayaan oleh Rasulullah untuk menterapkan sistem pertahanan khandaq (parit) dari serbuan tentara kafir quraisy dan ternyata tepat dan akurat.

Karakter Shiddiq; jujur, credible dapat dipercaya, bukan pendusta (kidzib) apalagi berbohong untuk urusan-urusan publik (rakyat). Para kandidat pendusta karakternya lebih mendekati pada watak plin-plan, tidak tegas, angin-anginan, pagi ngomong A sorenya ngomong B, mudah dipengaruhi dan dimanfaatkan segelintir orang. Dan ini yang lebih mencirikan seorang pendusta politik; senang mengedepankan tampilan fisik untuk menyembunyikan ketidakjujurannya.

Karakter tabligh; menjelaskan tidak menyembunyikan kebenaran, baik untuk dirinya sendiri apalagi untuk rakyatnya. Dia open di media elektronik dan cetak, dia jelaskan kepada rakyat tentang pentingnya kebijakan ini diambil, diputuskan. Dia buka latarbelakang sebuah keputusan dan tujuannya bagi rakyat kebanyakan. Secara gamblang dia jelaskan kepada rakyat manfaat dari kebijakan yang harus didukung ini. Dalam kehidupan pribadinya juga dia berani membuka kebenaran walaupun bisa menyakitkan diri dan keluarganya, dia jelaskan jumlah kekayaan pribadinya, dia jelaskan pula asal sumber keuangannya.
Keempat karakter di atas akan lebih bernilai apabila didukung dengan sikap keteladanan/akhlaq sang kandidat. Inilah calon pemimpin yang bukan pemimpi. Kalau sang kandidat ternyata bodong, blo’on, bodoh, suka berkhianat, suka ngibul, suka menyembunyikan kebenaran suka  bagi-bagi duit dan rakyat masih saja mau menerima dana sepuluh ribuan, duapuluh ribuan, limapuluh ribuan (walaupun bukan duit pribadinya) dan seterusnya untuk memilih anda, maka hakikatnya kita telah menjerumuskan diri sendiri, merusak nilai-nilai demokrasi dan sekaligus menghancurkan negeri ini. Karena kita melihat sang kandidat lebih mengedepankan tampilan fisik, sogokan materi ketimbang otak dan kemampuannya, dan karena tidak semua rakyat suka jadi pemilih bayaran, tidak senang memenjarakan nurani luhurnya dijeruji nilai nominal (fulus) dan terus terang saja rakyat kita sekarang malas beli karung tanpa ada kucingnya.  Nah lho!

Bogor, Desember 2007

3 komentar:

  1. Good posting kang...
    Sayang masih ada saja rakyat yang masih suka membeli karung sekalipun tidak ada kucingnya. Kita masih bisa melihatnya dari hasil pilpres dan pilkada-pilkada di republik ini.
    Mudah-mudahan ke depan rakyat akan lebih cerdas lagi memilih. Bukan karena uang, bukan karena senyuman, bukan karena basa-basi, bukan karena janji-janji, tapi karena nurani

    BalasHapus
  2. Salute kang,
    mohon ijin untuk di share kang...

    BalasHapus
  3. Mantap euy..
    mohon ijin untuk di share kang...

    BalasHapus