22 Mei 2011

Dari Asongan ke Gedongan
(inspiring true story)

Subuh yang menggigil masih menyisakan embun semalam nampak masih bergelayutan di sela-sela gerobak pasar, di celah-celah daun singkong dan sayur mayur yang ditebarkan di pinggir hingga sebahu jalan, bau khas sampah yang menyengat seakan khas aroma pasar pelita sukabumi, mungkin juga semua pasar di kota-kota lainnya, lelaki muda itu jalan berjingkit – jingkit kadang sedikit melompat menghindari jebakan kubangan comberan pada jalan aspal berlobang. Aspal berlobang kian bertebaran akh, ..... siapa sih yang senang menanam lele jumbo di sini, ehm, kayaknya  ada yang kerjasama nih sama perikanan, pikirnya nyeleneh.  Kedua telapak tangannya kembali ditempelkan di kedua belah pipinya melawan dinginnya udara subuh.
Di ketika subuh dingin yang berulangkali, lelaki muda itu kembali berusaha menjajakan dagangannya, sambil sesekali mengatupkan bibir  dan giginya karena dingin yang demikian menggigit. Kotak dagangan rokok yang selalu dibawa dia tutupi dengan sehelai plastik karena khawatir kelembaban udara subuh akan merusak barang dagangannya, sesekali dia menyapa dan disapa pedagang sayur di sekitarnya.
“dingin sekali ya pa?” sapanya
:”ya, tapi jangan dipikirin, nikmati saja, biasakan saja, lama-lama juga nanti hangat, matahari bentar lagi juga muncul, kalau ga begini mana dapat duit”. Lelaki muda itu mengangguk setuju. “coba roko jarumnya sebatang ngutang dulu, ntar jam tujuhan kubayar”
“ko, jam tujuhan sih pak?” lelaki muda itu heran
“lha iya, jualan bapak kan biasanya jam tujuhan juga dah habis”
“kalau ga habis?” tanya lelaki muda itu penasaran
“ya Insya Allah habis, kalau nggak, ya nggak bisa pulang, anak istri mau dikasih makan apa. Tapi yakin dong, kalau mau usaha, pasti Tuhan kasih kita rejeqi, yang penting mau ga usahanya, sebenarnya ya nak, rejeqi buat kita itu sudah Tuhan kasih, sudah Tuhan sebarkan di bumi ini, bahkan sejak kita dalam kandungan ........, cuma kita tidak tahu bagaimana, dimana dan kapan, makanya...... ya silahkan bu, daun singkongnya seger-seger bu.” Ucapan si Bapak terpotong ketika seorang ibu-ibu menyibakkan ikatan kangkung jualannya. Lelaki muda itu merenung mengingat ucapan yang baru saja meluncur fasih dan lancar dari mulut tukang sayur, ...... sebenarnya ya nak, rejeqi buat kita itu sudah  tuhan kasih, sudah tuhan sebarkan di bumi ini, sejak kita dalam kandungan ........, cuma kita tidak tahu bagaimana, dimana dan kapan......”, sekarang ucapan si Bapak terbukti, ketika seorang ibu memborong sayurannya. ...... Ehm, benar sekali rejeki itu akan datang bila dicari, bukan dinanti.
Kata-kata itu terus terngiang, masuk ke digital otak kelabunya, menembus jauh ke relung nurani keyakinanya serta menyibakkan sebuah kesadaran baru, apapun yang kita usahakan pasti akan membuahkan hasil, ternyata tuhan itu ada.
Dari kotak rokok jualanya, dari becak yang pernah dikayuhnya, dari aneka trotoar yang pernah ditidurinya dan dari kios kayu yang pernah dihuninya serta dari sekian subuh yang telah dilewati juga dingin yang kerap menggigili kulitnya, sejuta kasih sayang tuhan telah dia dapatkan melalui cobaan demi cobaan.
Duapuluhtiga tahun lewat sudah, aku pandang lelaki itu, wajah dewasa dengan sedikit guratan ketuaan, matanya tajam dan sedikit kerutan tanda kelelahan mengarungi kehidupan selama ini, helaan nafasnya mencerminkan kedewasaan seorang lelaki yang ditempa oleh sekian ribu kali subuh yang dilaluinya, tidak suka memanjakan hidup, karena hidup nanti akan menyakitinya, begitu prinsip hidupnya.
Dari berbagai profesi yang berulangkali dia geluti, kini dia meyakini bahwa apa yang dulu pernah dia dapatkan dari tukang sayur benar, bahwa kesempatan menjemput rejeki itu kitalah yang menciptakan, peluang-peluang dan kafasitas yang tuhan berikan harus dicari bukan dinanti.
Lelaki muda ini kini telah berubah perlahan tapi pasti, dengan gelar haji yang disandangnya, satu isteri dan 3 orang putra telah sukses secara material dan spiritual, kini memiliki 2 toko sembako yang cukup ternama di kotanya juga 2 buah kendaraan operasionalnya.
selamat !! semoga tetap mampu menjaga irama kehidupan yang selalu Allah ridloi, amin.
Tulisan ini buat sahabat kecilku.
Bogor, Mei 2011

24 Oktober 2010

Mama Ajeungan Ahmad Sanusi

Sosok Ajengan
KH. Ahmad Sanusi



Asal Kelahiran
Dilahirkan pada tanggal 3 Muharam 1036 H (18 September 1889). Ibunya bernama Empok, ayahnya, Haji Abdurrahim bin Haji Yasin, seorang tokoh masyarakat dan kyai Pesantren Cantayan, Desa Cantayan Kecamatan Cikembar, Kawedanaan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.

Perjalanan Intelektual
Mula-mula mendapat pelajaran dan pendidikan langsung dari ayahnya. Setelah cukup dewasa, kemudian disuruh belajar di berbagai pesantren yang ada di daerah Sukabumi, daerah Jawa Barat dan sekitarnya. Beliau menimba ilmu di berbagai Kyai terkenal pada waktu itu, antara lain:

6 Februari 2010

Biography KH. Dadun Abdul Qohhar

A. PENDIDIKAN

1. Belajar di Pesantren Cantayan pada usia 6 tahun langsung oleh orangtua, kemudian belajar pada :
- K. Ahmad Nahrowi (kakak)
- K. Uci Sanusi, sebelum beliau hijrah ke Cikaroya Cimahi Sukabumi
- KH. Acun Manshur (kakak)
- K. Ahmad Damanhuri (kakak)
2. Pada tahun 1938 - 1940 belajar di Madrasah Syamsul `Ulum, Pesantren
Gunung Puyuh, Kotamadya Sukabumi di bawah pimpinan KH. Ahmad Sanusi

B. KEGIATAN

Da'wah
Dari tahun 1936 sampai wafatnya (red) aktif dalam bidang Dakwah Islamiyah, melalui pengajian-pengajian rutin, baik kaum bapak, kaum ibu, remaja, mahasiswa, para kiyai dan sarjana (data terlampir) dan pengajian-pengajian yang sifatnya insidental termasuk hari-hari besar Islam.
Pendidikan
Tahun 1936 - 1945 turut aktif mengelola Pesantren Cantayan Cibadak Sukabumi. Dari tahun 1949 sampai (wafat, red) sebagai sesepuh Pesantren Adda'wah Cibadak Sukabumi.

24 Januari 2010

Beri Kami Biangnya, Jangan Botolnya

(Melembagakan Budaya Uswah/Suritauladan)

LELAP TAK BERDAYA

Kita tidur lelap, demikian nyenyaknya sampai kita tidak sadar para pencuri telah masuk ke rumah, melongok, berjingkat-jingkat dan mengendap-endap dan melihat kita yang tergolek demikian lelapnya, dengan mencibir dan sinis mereka melewati tempat tidur kita, mereka hafal betul seluruh ruangan dan kamar kita seolah-olah merekalah pemilik rumah. Para pencuri ini telah lama merencanakan pencurian di rumah kita, dipelajarinya dengan seksama kebiasaan-kebiasaan kita, kebiasaan harian kita, mingguan, bulanan dan kebiasaan tahunan kita, sehingga mereka tahu persis segala rutinnya aktifitas kita dari mulai subuh, pagi, siang, malam dan seterusnya, dari saat kita terjaga dan tertidur, sepertinya para pencuri ini juga mampu mencuri mimpi-mimpi kita, harapan, gagasan dan ide-ide kita. Mereka telah mengenal kita bagaikan mengenal anaknya sendiri, hafal betul dengan dengus nafas kita, watak, karakter, kolokan dan manjanya kita (ya’rifunahuu kama ya’rifuuna abnaa ahum, QS. 2 ; 146 “kenalnya mereka kepada Muhammad (Alqur`an, Islam, kebenaran) seperti mengenal anaknya sendiri, tetapi kebenaran ini mereka sembunyikan)”.

15 Januari 2010

Tas Dan Irama Kehidupan (Kisah Nyata 2)

PAGI yang cerah, segelas kopi kental hangat dan dua potong pisang goreng menemani pagiku, sementara “belu” kucingku menyapaku dengan mengais-ngaiskan lehernya di kakiku. Wuah, sungguh pagi yang ramah, sejuk, angin kecil mencoba menerobos pori-pori bilik kamarku.
‘assalamu `alaikum’ terdengar suara orang mengucap salam, nadanya dalam dan berat, pertanda orangnya tua dan berwibawa.
‘wa’alaikum salam’ sahutku sambil kubuka pintu, dan dugaanku meleset, ternyata orangnya masih muda dan cukup berwibawa, dan dilihat dari penampilannya, ini tamu pasti orang penting, akh, aku tidak mau mereka-reka, suka meleset (pikirku), yang penting prinsipku setiap orang yang datang kerumahku selalu kuperlakukan orang penting, tapi siapa gerangan, tamu pagi istimewa ini.
‘apa betul ini rumahnya pa burhan?’
‘ya, betul, pak. Saya sendiri, dan ....”
“kenalkan saya, pa Yuda .....”