24 Januari 2010

Beri Kami Biangnya, Jangan Botolnya

(Melembagakan Budaya Uswah/Suritauladan)

LELAP TAK BERDAYA

Kita tidur lelap, demikian nyenyaknya sampai kita tidak sadar para pencuri telah masuk ke rumah, melongok, berjingkat-jingkat dan mengendap-endap dan melihat kita yang tergolek demikian lelapnya, dengan mencibir dan sinis mereka melewati tempat tidur kita, mereka hafal betul seluruh ruangan dan kamar kita seolah-olah merekalah pemilik rumah. Para pencuri ini telah lama merencanakan pencurian di rumah kita, dipelajarinya dengan seksama kebiasaan-kebiasaan kita, kebiasaan harian kita, mingguan, bulanan dan kebiasaan tahunan kita, sehingga mereka tahu persis segala rutinnya aktifitas kita dari mulai subuh, pagi, siang, malam dan seterusnya, dari saat kita terjaga dan tertidur, sepertinya para pencuri ini juga mampu mencuri mimpi-mimpi kita, harapan, gagasan dan ide-ide kita. Mereka telah mengenal kita bagaikan mengenal anaknya sendiri, hafal betul dengan dengus nafas kita, watak, karakter, kolokan dan manjanya kita (ya’rifunahuu kama ya’rifuuna abnaa ahum, QS. 2 ; 146 “kenalnya mereka kepada Muhammad (Alqur`an, Islam, kebenaran) seperti mengenal anaknya sendiri, tetapi kebenaran ini mereka sembunyikan)”.

15 Januari 2010

Tas Dan Irama Kehidupan (Kisah Nyata 2)

PAGI yang cerah, segelas kopi kental hangat dan dua potong pisang goreng menemani pagiku, sementara “belu” kucingku menyapaku dengan mengais-ngaiskan lehernya di kakiku. Wuah, sungguh pagi yang ramah, sejuk, angin kecil mencoba menerobos pori-pori bilik kamarku.
‘assalamu `alaikum’ terdengar suara orang mengucap salam, nadanya dalam dan berat, pertanda orangnya tua dan berwibawa.
‘wa’alaikum salam’ sahutku sambil kubuka pintu, dan dugaanku meleset, ternyata orangnya masih muda dan cukup berwibawa, dan dilihat dari penampilannya, ini tamu pasti orang penting, akh, aku tidak mau mereka-reka, suka meleset (pikirku), yang penting prinsipku setiap orang yang datang kerumahku selalu kuperlakukan orang penting, tapi siapa gerangan, tamu pagi istimewa ini.
‘apa betul ini rumahnya pa burhan?’
‘ya, betul, pak. Saya sendiri, dan ....”
“kenalkan saya, pa Yuda .....”

14 Januari 2010

Ketika Aku Tak Bisa Lagi Sekolah

Cerita singkat ini hanya imajinasi nalarku yang berkelana ke tragedi gempa dan tsunami dan mencoba masuk dalam suasana asa ketakutan, kengerian yang tidak terperi, kesedihan, nelangsa saudara-saudaraku di sana. Tentu tulisan ini jauh dari musibah yang sebenarnya, sakit yang sebenarnya, nelangsa yang sebenarnya. Tapi aku mencoba berbagi perasaan. Mudah-mudahan Aceh bangkit dan jaya kembali sebagai sebuah serambi Mekkah, Penulis.

MINGGU PAGI yang cerah, angin berhembus perlahan, lembut dan dedaunan masih menyisakan embun sisa semalam, kehangatan matahari menembus ke bilik kamar bambuku, hangat dan membuat aku menggeliat bangun. Hari ini minggu, 26 Desember 2004 pukul 08.35, akh masih pagi, tokh sekolah libur, tokh orang-orang juga masih pada tidur,  masih bermalas-malasan, akh, pagi ini apa acaraku ya, kumpul dengan teman, main ke pantai atau buka-buka buku pelajaran, wuah, malas aku. Tiba-tiba terasa goncangan yang cukup keras pada tempat dimana aku tinggal pada bale dimana aku sedang tiduran, gempa melanda, duh, besar amat ini gempa ko lama lagi, ya, ya masih terasa, aku segera keluar karena gubukku berderak-derak, ya tuhan aku takut, sungguh aku takut sekali, ko lututku menggigil tak bisa digerakkan.

9 Januari 2010

The Cage (Kerangkeng)

Tulisan ini sekedar auto-kritik atas penomena akhir-akhir ini yang penulis temukan dari peran para ulama, kiyai, muallim, ustadz/dzah yang memenjarakan diri dan ilmunya pada kandang-kandang yang berjeruji kelompok, golongan juga partai. Kemandirian peran seorang ulama, seorang alim, kiyai telah terkontaminasi oleh syahwat kebutuhan sesaat, peristiwa sesaat (pileg, pemilu, pilkada, pilgub) dengan mengorbankan peran keabadian fungsi berdiri di atas semua golongan, kelompok juga partai. Tragis!
 
Cerita I
Dua orang pemburu sedang membidik seekor menjangan di hutan belantara, ketika terdengar suara erangan harimau, mereka lari terbirit-birit mencari tempat perlindungan, memanjat pohon. Auman harimau itu semakin jelas terdengar, dekat …. Dan memang benar, seekor macan  loreng sedang mengais-ngais hidungnya ke batang pohon, matanya kecil tajam mendongkak melihat ke atas dan mengitari pohon sambil memperlihatkan taringnya  kemudian menggerang kembali, grrgh….gerrrgh  kedua pemburu itu menggigil ketakutan, wajahnya pucat pasi,  takut yang bukan kepalang, tanpa mereka sadari celana mereka basah.

Fenomena Pilkada (Beli Karung Tanpa Kucingnya)

(Tulisan ini tidak disertai validitas data yang akurat, tetapi hanya didasarkan atas obrolan, bisikan, dan keluhan serta informasi dari media cetak dan elektronik dan kesimpulan yang bersifat sumir dari beberapa kasus yang terjadi di negeri ini tentang proses demokratisasi kepemimpinan melalui  pemilu, pilpres, pilgub, pilkada).

KARUNG TANPA KUCINGNYA

 
Sebuah baliho dengan warna mencolok berukuran 12 x 10 m2 terpampang di persimpangan jalan protokol dengan tampilan foto calon kepala daerah ukuran besar tetapi hurup kecil, namun masih bisa terbaca dengan tulisan “MARI KITA JAGA PERSATUAN DAN KEUTUHAN NKRI”.